Cara Melihat Kadaluarsa Kamera Digital


Anda tentu sering melihat dibeberapa bungkus produk, tulisan expired atau kadaluarsa yang memberikan informasi  kepada kita batasan waktu produk yang dijamin kualitasnya oleh produsen. Lalu apa hubungannya dengan kamera digital? Pada kamera digital, istilah kadaluarsa ini akan berlaku atau dihitung sejak Anda menggunakan kamera digital tersebut pertama kali.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya (silahkan baca/klik disini) bahwa disaat kita menekan tombol Shutter, komponen-komponen kecil dalam kamera akan bekerja sedemikian rupa dan akan menghasilkan sebuah foto. Komponen-komponen kecil ini tentu saja memiliki batas kerja maksimal yang jika melampaui batas, fungsi kerja dari kamera bisa saja akan terganggu atau rusak. Jadi istilah kadaluarsa yang dimaksud disini bukanlah rentan waktu maksimal dari kamera digital, akan tetapi lebih kepada sudah berapa kali tombol Shutter ditekan sejak kamera digital tersebut digunakan. Jumlah pemencetan tombol Shutter ini biasa juga disebut dengan Shutter Count.

Shutter Count adalah jumlah berapa kali tombol Shutter pada kamera Anda telah dipencet untuk menghasilkan sebuah foto. Dengan mengetahui Shutter Count kamera ini, kita bisa memprediksi sampai kapan kamera kita bisa bekerja dengan baik. Angka standar kamera yang baik adalah dengan Shutter Count 100 ribu, artinya kita bisa memencet tombol sampai 100 ribu kali untuk menghasilkan sebuah foto tanpa kamera mengalami kerusakan mekanis, bahkan untuk kamera kelas Pro ada yang bisa mencapai angka Shutter Count ini 200 ribu.

Jadi bagaimana cara menentukan, apakah kamera kita sudah kadaluarsa atau tidak? Ada beberapa pilihan, disini akan saya berikan yang paling populer dan mudah digunakan :
  • Cara pertama, silahkan buka website ini, kemudian klik Choose File dan pilih foto dari komputer/memory card Anda. Setelah itu klik Image from file dan tunggu loading. Scroll kebawah, disana akan Anda temukan deretan data EXIF foto Anda.
  • Cara kedua, download EOS Info (khusus Canon) atau Opanda.
Keuntungan lain dengan mengetahui Shutter count ini adalah saat kita membeli kamera bekas. Kita tahu bahwa membeli barang bekas adalah tindakan yang penuh resiko. Dengan mengetahui Shutter Count kamera ini paling tidak kita sudah meminamilisir resiko tersebut dan mematok harga kamera bekas dengan teliti

Ingin Beli Kamera Digital? Lihat Dulu Jenis Kamera Apa Yang Cocok Untuk Anda


Pada zaman milenia sekarang ini, Anda bisa menggunakan smartphone untuk melakukan berbagai pemotretan. Jadi, buat apa lagi membeli kamera digital? Pada artikel ini BarajaFoto akan bahas beberapa fitur berteknologi tinggi dan mode pemotretan yang ditawarkan oleh kamera digital, sehingga diharapkan mampu membantu Anda untuk memutuskan opsi mana yang akan dipilih, sesuai dengan kebutuhan Anda.

Jika Anda ingin melakukan selfie di suatu tempat atau ingin mengupload foto makanan di sosial media, Anda bisa mengandalkan kamera smartphone untuk melakukannya. Sebab itu adalah foto yang relatif statis, Anda hanya perlu arahkan smartphone ke objek dan jepret, hasilnya mungkin bisa bagus menurut pandangan Anda. Coba gunakan kamera smatphone Anda untuk memotret satu objek pada pertandingan sepak bola atau memotret idola Anda pada sebuah pertunjukan musik, maka keterbatasan kamera smartphone akan terlihat. Orang yag bergerak, objek yang terlalu jauh dan kondisi pencahayaan beragam akan mempengaruhi hasil kerja sebuah kamera.

Kamera digital menawarkan kualitas gambar lebih bagus, respon yang cepat dan pengontrolan kamera yang baik. Secara garis besar, ada 3 jenis kamera digital yang beredar dipasaran saat ini :

1. Kamera Point and Shoot

Kamera all-in-one yang nyaman dan kompak ini bisa diandalkan untuk mengabadikan foto kegiatan keseharian Anda. Dengan desain yang ringan dan bisa dikantongin (biasa juga disebut dengan kamera saku) tentu sangat mudah dibawa dalam perjalanan Anda. Disamping itu, settingannya pun cukup mudah dan sederhana, sebab pada umumnya kamera Point and Shoot dibuat serba otomatis. Pada settingannya Anda hanya akan mendapati untuk mengaktifkan fitur-fitur seperti GPS, face detection, smile detection dan sebagainya.

Jika Anda ingin membeli kamera Point and Shoot ini, Anda akan dibingungkan dengan banyaknya pilihan yang tersedia dipasaran. Namun pada dasarnya ada beberapa jenis kamera Point and Shoot yang mungkin ingin Anda pertimbangkan :

  • Kamera dengan Zoom tinggi. Kamera jenis ini memiliki zoom optik 10x atau lebih tinggi untuk memotret objek yang terlalu jauh dari Anda.
  • Kamera dengan desain ramping dan tipis. Kamera dengan jenis ini biasanya memiliki ketebalan kurang dari satu inchi sehingga akan mudah dimasukkan kedalam saku baju Anda.
  • Kamera Waterproof/tahan air. Jika Anda hobi berenang dan ingin memotret kegiatan Anda dalam air, kamera jenis inilah yang harus Anda miliki. Kedalaman maksimal yang ditawarkan masing-masing kamera juga beragam, mulai dari 1 sampai 10 meter bahkan lebih, silahkan sesuaikan dengan kebutuhan Anda.

2. Kamera DSLR

Ini adalah jenis kamera terbaik untuk kelas kamera digital. Dengan fitur yang terbilang sangat komplit, lensa yang bisa diganti dan peforma mesin digital yang canggih akan menghasilkan foto dengan kualitas jauh lebih tinggi dari kamera Point and Shoot.

DSLR atau Digital Single Lens Reflex memberikan nilai lebih bagi Anda yang hobi fotografi. Disebut "Single Lens Reflex" karena pada kamera jenis ini ada sebuah cermin yang akan memantulkan bayangan dari objek saat Anda mengintip dari jendela bidik. Saat tombol shutter dipencet, cermin ini akan naik keatas dan membiarkan cahaya masuk ke sensor kemudian sensor akan merekam semua cahaya yang masuk dan ditampilkan pada monitor kamera (Baca selengkapnya di : Bagaimana sebuah kamera bisa menghasilkan foto)

Apakah harus jadi fotografer profesional dulu untuk bisa menggunakan kamera DSLR? Jawabannya, bisa ya dan bisa juga tidak. Secara keseluruhan, ada 3 pilihan settingan yang bisa Anda gunakan yaitu Otomatis, Semi-Otomatis dan Manual. Settingan otomatis berarti semua settingan ditentukan oleh kamera, Anda tinggal bidik dan jepret. Flash kamera akan naik jika objek kurang mendapat cahaya. Semi-Otomatis berarti Anda "berkolaborasi" dengan kamera. Misalnya, Anda bisa mempercayakan pengaturan Shutter Speed atau Aperture pada kamera, sedangkan pengaturan lainnya dilakukan secara manual. Terakhir adalah Settingan manual yang berarti semua settingan Anda tentukan sendiri. Ini akan sangat mengasyikkan, sebab Andalah penentu hasil akhir foto Anda. Untuk menggunakan teknik ini, paling tidak Anda harus memahami dulu dasar fotografi dan bagaimana menggunakan kamera.

3. Kamera Mirrorless

Tidak seperti kamera DSLR, kamera mirrorless tidak memiliki cermin pantul seperti yang dijelaskan diatas, sehingga apa yang akan Anda potret akan langsung ditampilkan di layar monitor, dengan kata lain kamera ini tidak mempunyai view finder atau jendela bidik. Desain body kamera kecil layaknya kamera Point and Shoot namun mempunyai lensa yang dapat diganti seperti kamera DSLR.

Kamera ini memiliki fitur yang "hampir" menyaingi fitur-fitur yang ada pada kamera DSLR. Harganya pun lebih murah dibanding dengan harga DSLR. Namun sampai saat ini, kamera mirrorless belum mampu menggantikan posisi kamera DSLR dipasaran. Banyak fotografer beralasan, selain bobot kamera yang ringan dan tidak adanya view finder menyebabkan hasil pemotretan pada speed lambat sering kurang fokus.

Jadi mana yang lebih cocok untuk Anda? Jika hanya ingin sekedar memotret keseharian Anda dirumah atau diperjalanan, mungkin kamera Point and Shoot sudah cukup bisa memenuhi kebutuhan Anda. Harga yang relatif lebih murah, ukuran yang kecil dan ringan tentu akan dengan mudah dibawa kemanapun, praktis.

Kamera Mirrorless memberikan sensasi pemotretan yang berbeda. Ukuran body hampir sama dengan kamera Point and Shoot, namun lensa pada kamera mirrorless ini bisa Anda gonta-ganti sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga hasilnya akan lebih baik dibanding dengan kamera saku (Point and Shoot). Walaupun masih tergolong ringan, Anda mungkin membutuhkan sebuah tas kecil jika membawa kamera jenis ini dalam bepergian.

Apabila Anda ingin lebih mendalami fotografi atau ingin menggeluti bisnis fotografi, maka kamera DSLR wajib Anda miliki. Kenapa? Karena kamera DSLR adalah jenis kamera terbaik untuk kelas kamera digital. Anda bisa menghasilkan foto-foto fantastis dengan kamera DSLR. Semua teknik fotografi akan lebih mudah dipahami jika Anda menggunakan kamera jenis ini. Satu hal lagi, Anda akan lebih keren dan terlihat profesional jika "menenteng" kamera DSLR ini dalam suatu acara atau ditempat keramaian. hee..

Semoga bermanfaat,.

Sudah Lihat 10 Foto Termahal Didunia? Harganya itu lho...

Foto Termahal Didunia
10 Foto Termahal Didunia

Hampir setiap orang saat ini bisa melakukan pemotretan dengan kamera smartphone atau tablet, sehingga oleh sebagian orang, pengaruh budaya modern seperti ini menyebabkan teknik fotografi bukanlah sesuatu yang harus diperhatikan. Akhir-akhir ini banyak tablet dan smartphone berlomba-lomba untuk menghadirkan kamera berkualitas tinggi pada produk-produk mereka. Dengan demikian smartphone atau tablet ini menjadi barang pokok yang harus ada pada acara keluarga, reuni,  liburan bahkan pada acara pernikahan.

Namun, sampai kapanpun fotografi tetaplah sebuah seni dan hasil karya seni itu mempunyai harga. Pertanyannya, berapa harga yang pantas untuk satu buah karya fotografi? Apakah Anda mau membeli sebuah foto seharga Rp. 10 juta? Bagaimana dengan 100 juta untuk sebuah foto? Sekarang coba lihat daftar 10 foto paling mahal yang pernah dijual yang barajafoto sajikan di bawah ini. Jangan kaget dengan deretan angka yang akan Anda lihat, kita mulai dari nomor 10...


10. Untitled #153 (1985) - $ 2.770.000 atau ± Rp. 36.010.000.000

Fotografer : Cindy Sherman
foto termahal di dunia
Untitled #153 - Cindy Sherman

Terjual dengan harga lebih dari 36 milyar rupiah, membuat foto karya Cindy Sherman ini menempati urutan ke 10 foto termahal didunia. Foto yang diambil pada tahun 1985 ini terjual pada 8 November 2010 di New york. Sang Fotografer meyakinkan bahwa wanita dalam foto bukanlah korban dari sebuah tragedi, akan tetapi sebuah settingan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


9. Los Angeles (1998) - $ 2.900.000 atau ± Rp. 37.700.000.000

Fotografer : Andreas Gursky


foto termahal di dunia
Los Angeles - Andreas Gursky 

Karya dari fotografer terkenal Andreas Gursky ini menunjukkan pemandangan kota Los Angeles pada malam hari, dengan jaringan listrik yang menyala dibawah langit yang gelap. Foto ini diambil pada tahun 1998 dan terjual pada 27 Februari 2008 di London, Inggris, seharga 37,7 milyar rupiah


8. The Pond Moonlight (1904) - $ 2.928.000 atau ± Rp. 38.064.000.000

Fotografer : Edward Steichen

foto termahal di dunia
The Pond Moonlight - Edward Steichen

Foto karya Edward Steichen ini diambil pada tahun 1904 dan  merupakan foto tertua dari daftar ini. Terjual dengan harga 38 milyar rupiah lebih pada bulan Februari 2006 di New york Amerika serikat.
Foto yang menunjukkan sebuah kolam dengan latar belakang bulan yang tertutup hutan ini cukup populer dikalangan para penikmat fotografi, karena foto ini merupakan foto warna pertama yang pernah didistribukan secara luas.



7. 99 Cent II, Diptychon (2001) - $ 3.346.456 atau ± Rp. 43.503.928.000

Fotografer : Andreas Gursky


foto termahal di dunia
99 Cent II, Diptychon - Andreas Gursky

Masih karya fotografer Andreas Gursky, 99 Cent II ini terjual dengan harga lebih dari 43,5 milyar pada bulan Februari 2007 di London, Inggris. Foto ini menunjukkan interior sebuah supermarket dengan susunan barang yang kaya akan warna, merupakan gabungan dua buah foto yang disebut dengan diptych dan foto ini dicetak dengan ukuran 2,07 x 3,37 meter.
Sebelumnya foto ini juga pernah dijual dua kali yaitu pada bulan Mei 2006 dengan harga Rp. 29,25 milyar dan pada bulan November 2006 dengan harga Rp. 32,24 milyar di kota New york




6. Untitled (Koboi) (1989) - $ 3.400.000 atau ± Rp. 44.200.000.000

Fotografer : Richard Prince

foto termahal di dunia
Untitled (Koboi) - Richard Prince

Foto koboi yang sedang menunggang kuda dan mengayunkan tali untuk menangkap kuda lainnya ini berhasil menduduki urutan ke 6 foto termahal di dunia dengan harga Rp. 44, 2 milyar. Foto ini diambil pada tahun 1989 dan terjual pada tanggal 14 Mei 2014 di kota New york


5. Dead Troops Talk (1992) - $ 3.666.500 atau ± Rp. 47.664.500.000

Fotografer : Jeff Wall

foto termahal di dunia
Dead Troops Talk - Jeff Wall

Foto ini menggambarkan invasi soviet ke Afghanistan pada tahun 1986. Sang Fotografer, Jeff Wall menceritakan ini kembali dalam sebuah foto pada tahun 1992. Foto yang diperankan beberapa model ini diambil dalam studio dengan adegan tentara yang tewas dan bangkit kembali untuk saling berbicara satu sama lainnya. Ide unik dan kreatif yang tercermin dalam foto tersebut termasuk diantara alasan terbesar mengapa foto ini bisa terjual dengan harga Rp. 47, 6 milyar


4. To Her Majesty (1973) - $ 3.765.276 atau ± Rp. 48.948.588.000

Fotografer : Gilbert & George

foto termahal di dunia
To Her Majesty - Gilbert & George

Foto yang berjudul To Her Magesty karya Gilbert & George mencerminkan berbagai topik yang ada didunia. Mereka berhasil menjual foto ini senilai hampir 50 milyar rupiah pada bulan Juni 2008 di London, Inggris.


3. Untitled #96 (1981) - $ 3.890.500 atau ± Rp. 50.576.500.000

Fotografer : Cindy Sherman

foto termahal di dunia
Untitled #96 - Cindy Sherman

Foto yang menggambarkan seorang remaja dengan "pose" misterius ini berhasil dijual dengan harga Rp. 50,5 milyar lebih pada bulai Mei 2011.


2. Rhein II (1999) - $ 4.338.500 atau ± Rp. 56.400.500.000

Fotografer : Andreas Gursky

foto termahal di dunia
Rhein II - Andreas Gursky

Foto dengan komposisi cukup sederhana ini berhasil dijual dengan harga 56, 4 milyar rupiah di New york pada tahun 2011. Bisa kita lihat, ini merupakan foto sebuah sungai (sungai Rhein, Jerman) dibawah langit mendung dan diantara rumput hijau. Sang Fotografer, Andreas Gursky, menyatakan bahwa foto ini sudah diolah secara digital untuk menghilagkan detail asing seperti anjing dan bangunan pabrik.

1. Phantom (2008) - $ 6.500.000 atau ± Rp. 84.500.000.000

Fotografer : Peter Lik

foto termahal di dunia
Phantom : Peter lik

Ini adalah foto paling mahal didunia sampai saat ini, terjual dengan harga Rp. 84,5 milyar . Meskipun banyak pihak yang meragukan tentang hal ini karena klaim penjualan tidak terbukti dan identitas pembeli tidak diketahui, namun seorang pengacara yang mewakili pembeli mengklaim bahwa kesepakatan itu  nyata.

Sekarang kita tahu bagaimana orang-orang diluar sana menghargai sebuah foto. Namun satu pelajaran dapat kita ambil yaitu bahwa makna yang tersembunyi dari sebuah foto akan lebih berharga dari apa yang terlihat secara visual. Karena itulah foto-foto diatas bisa masuk dalam Daftar 10 Foto Termahal Di Dunia



Sumber 1
Sumber 2

5 Tips Mudah Menggunakan Photoshop Untuk Pemula


Dalam beberapa dekade, posisi Photoshop sebagai softwere digital imaging terbaik memang belum bisa tergantikan. Dengan Photoshop Anda bisa berkreasi, mulai dari mendesain web sampai membuat animasi. Photoshop bisa merealisasikan imajinasi Anda untuk mengubah tampilan sebuah foto, dari yang biasa menjadi luar biasa.

Untuk dapat menguasai Photoshop diperlukan waktu yang tidak sedikit, Anda harus mencobanya dengan banyak latihan, karena bagaimanapun juga Photoshop adalah seni digital.

Pada artikel ini, kita akan belajar beberapa keterampilan dasar Photoshop yang bisa Anda terapkan dalam melakukan proses editing dengan Photoshop. 5 tips Photoshop yang mudah untuk pemula ini bisa menjadi awal yang bagus bagi Anda untuk belajar menggunakan Photoshop

1. Mengenal Keyboard Shortcuts

Dengan Shortcuts keyboard akan membantu Anda mempercepat proses editing. Ada banyak Shortcuts yang bisa Anda gunakan seperti tombol B untuk brush tool,  tombol E untuk Eraser tool, spasi untuk hand tool dan lain-lain. Anda bisa mengetahuinya pada menu Edit - Keyboard Shortcuts.

cara menggunakan photoshop
Shortcuts Keyboard Photoshop

2. Memahami Menu Adjustments

Menu Adjustments berkaitan dengan pengaturan warna, meliputi pengaturan terang atau gelap gambar, black and white, saturasi warna dan semacamnya. Beberapa menu mungkin terlihat mempunyai fungsi yang sama, namun untuk hasil pada masing-masing menu akan berbeda (seperti antara menu Brightness/Contrast, Levels, curves dan Exposure atau antra menu Hue/saturation dan menu vibrance)

cara menggunakan photoshop
Adjustment Photoshop

3. Menambahkan ketajaman dan detail foto

Menambahkan ketajaman pada foto adalah teknik lain untuk pemula di Photoshop. Setiap detail pada foto akan di tonjolkan sehingga foto akan terlihat lebih tajam. Seperti teknik lainnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mempertajam sebuah foto. Namun disini saya akan menunjukkan teknik yang sangat sederhana. Setelah Anda memahami teknik ini, Anda dapat bereksperimen dengan teknik lainnya.

  • Langkah 1, Duplikat layer yang dipilih dengan menekan tombol Ctrl_J pada keyboard
  • Langkah 2, Ganti Blending Mode dari Normal menjadi Overlay. Langkah ini akan mengubah tampilan warna pada gambar Anda.
    cara menggunakan photoshop
    Blending Mode Photoshop

  • Langkah 3, Pilih Menu Filter - Other - Highpass
  • Langkah 4, Pada jendela Highpass, atur nilai radius yang pas dengan gambar Anda dan klik OK
Setelah melakukan keempat langkah diatas, Anda masih bisa mengatur atau menyesuaikan hasil yang diperoleh dengan mengubah angka opacity yang berada disebelah blending mode

4. Galery Filter Photoshop

Menu Filter pada Photoshop pada dasarnya adalah untuk memberikan efek otomatis pada gambar dengan beberapa klik. Ada berbagai filter di Photoshop yang dapat Anda pilih. Anda bisa memilih satu buah efek filter atau menggabung beberapa filter untuk diterapkan pada satu buah gambar. 

Untuk menggunakan filter galery ini silahkan masuk kemenu Filter - Filter Gallery. Setelah itu pilih salah satu efek yang disediakan. Lakukan pengaturan dengan menggeser slider yang berada di kanan atas jendela filter gallery

cara menggunakan photoshop
Filter Gallery

Sebelum Anda menerapkan filter gallery ini, pastikan dulu bahwa mode gambar Anda berada pada angka 8 bits/channel. Anda bisa mengetahuinya di menu Image - Mode - 8 bits/channel.

5. Memberikan Efek Vignette

Vignetting pada dasarnya adalah teknik untuk menggelapkan bagian tepi gambar sehingga objek gambar yang biasanya terletak ditengah akan lebih menonjol. Mata kita biasanya cendrung menuju kearah yang lebih terang pada saat pertama kali melihat sebuah gambar.

Ada banyak cara manual yang bisa dilakukan untuk memberikan efek vignette ini, namun yang paling gampang adalah dengan masuk kemenu Filter - Lens Correction. Kemudian di kanan atas klik Tab Custom. Disitu akan Anda temukan untuk menambahkan vignette pada gambar Anda, silahkan Anda geser slider Amount dan Midpoint sesuai yang dibutuhkan

cara menggunakan photoshop
Efek Vignette

Saya harap ke-5 Tips Photoshop Mudah Untuk Pemula ini dapat membantu Anda dalam memperbaiki dan menyempurnakan foto Anda. Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan isi kolom komentar dibawah

Memperbaiki Kesalahan dalam Menentukan White Balance Kamera Dengan Photoshop

Pada postingan sebelumnya, telah disebutkan bahwa pengaturan White Balance (WB) berpengaruh terhadap warna sebuah foto. Sehingga untuk mendapatkan warna foto yang natural haruslah dengan pengaturan WB yang pas.

Pengaturan White Balance tidak kalah penting dengan Metering Mode dan harus dilakukan sebelum pemotretan dimulai. Namun kenyataanya ada juga Fotografer yang justru tidak melakukan settingan White Balance ini yang mungkin disebabkan karena lupa, kejar momen atau bahkan memang tidak mengetahui tentang fitur white balance ini.

Untungnya, kesalahan dalam mengatur White Balance ini dapat dikoreksi dengan Photoshop. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk memperbaiki salah pengaturan WB ini dengan Photoshop. Salah satu atau kesemuanya bisa Anda terapkan untuk mendapatkan hasil akhir yang diinginkan

Memperbaiki salah WB dengan Photoshop
Memperbaiki salah pengaturan WB dengan Photoshop

  1. Auto Color

  2. Dengan Auto Color, Photoshop akan melakukan koreksi warna pada foto yang menurutnya paling benar. Anda bisa mendapatkan pengaturan ini pada menu Image → Auto Color. Jika cara ini tidak berhasil silahkan lanjutkan pada nomor 2
    Memperbaiki salah WB dengan Photoshop
    1. Auto Color

  3. Camera RAW - JPG

  4. Jendela atau pengaturan Camera RAW ini dapat Anda temukan dengan membuka menu File → Open As → Pilih Foto → pada bagian bawah ganti Open As dengan Camera RAW (*.TIF.*,*.CRW.*,*.NEF.*,...)
    Memperbaiki salah pengaturan WB dengan Photoshop
    2. Camera RAW/JPEG

    Cara menggunakannya, pertama aktifkan White Balance tool kemudian pilih warna putih pada foto. Lihat preview foto Anda, jika warna belum maksimal lakukan sedikit settingan dengan menggeser beberapa slider yang ada di samping kanan. Jika sudah, sambil menekan tombol ALT pada keyboard klik Open Image.

  5. Menggunakan Curves

  6. Caranya sama dengan Camera RAW diatas. Pertama aktifkan jendela Curves dengan menekan adjusment layer pada palette layer, kemudian pilih Curves. Pada jendela Curves yang terbuka klik salah satu dari tiga sample tool yang ada. Poin pertama untuk memilih warna hitam, poin kedua untuk warna grey atau abu-abu dan poin ketiga untuk memilih warna putih. Perhatikan gambar :
    Memperbaiki salah pengaturan WB dengan Photoshop
    3a. Adjusment Curves

    Memperbaiki salah pengaturan WB dengan Photoshop
    3b. Curves

  7. Manual Setting

  8. Dengan manual setting ini kita melakukan sendiri pengaturan warna pada foto. Tentu saja ini butuh ketelitian dan kejelian Anda dalam mengedit. Anda bisa menggunakan fitur Adjusment yang ada pada menu Image. Sebagai langkah awal bisa dengan menggunakan Color Balance untuk mengatur warna pada foto, kemudian Hue/Saturation untuk mengganti warna dan mengurangi saturasi dan seterusnya.
    Memperbaiki salah pengaturan WB dengan Photoshop
    4. Manual Setting

Oke, itulah beberapa cara yang bisa Anda gunakan untuk memperbaiki salah WB dengan Photoshop. Semoga bermanfaat,..

WHITE BALANCE : Mengatur Warna Foto Pada Kamera

Pada sebuah kamera DSLR, bisanya terdapat satu tombol yang diberi nama dengan WB (lihat bagian dan tombol kamera disini). Apa itu WB atau White Balance? Kenapa kita harus mengenal dan paham dengan istilah tersebut?

Untuk lebih gampangnya, saya akan memberikan sebuah gambaran tentang pentingnya untuk mengatur settingan White Balance sebelum pemotretan. Anda pasti tahu jika antara lampu neon dan bohlam memiliki warna yang berbeda. Itu disebabkan karena antara keduanya memiliki "temperatur warna" yang berbeda.

Selain itu, warna cahaya matahari yang jatuh kebumi antara pagi, siang dan sore hari itu juga tidaklah sama. Pagi hari bernuansa kekuningan, siang kebiruan dan sore hari berwarna oranye atau keemasan. Nah, karena pengaruh warna cahaya inilah pada kamera DSLR dilengkapi dengan fitur yang namanya white balance.

White balance bertujuan untuk memberi perintah pada kamera agar mengenali temperatur sumber cahaya yang ada. Supaya yang putih terlihat putih, biru terlihat biru, merah terlihat merah atau dengan kata lain supaya kamera betul-betul mengenali warna objek dalam foto secara akurat dalam kondisi pencahayaan apapun.

Coba lihat foto berikut :

Jika diperhatikan, ketiga foto diatas memiliki warna yang berbeda, foto kiri terlihat sedikit kemerahan, foto tengah terlihat cukup normal dan foto C terlihat kebiruan. Ya kan? Padahal ketiga foto tersebut saya ambil dalam waktu yang tidak jauh beda, saya hanya mengubah settingan White Balance pada kamera.

Penentuan white balance dalam fotografi adalah hal yang sangat penting, karena dari situlah kita menentukan ingin seperti apa warna foto kita. Jadi bukan tentang benar atau salah. Kalau kita menginginkan warna foto seperti yang terlihat oleh mata kita, maka settingan WB haruslah tepat. Namun pada kondisi tertentu, WB yang meleset pun kadang menghasilkan foto yang unik dan menarik.

Lantas, bagaimana cara pengaturan WB ini pada kamera? Mari kita lanjutkan...



Gambar diatas adalah menu White Balance dari kamera Nikon, mungkin dalam penamaannya akan berbeda jika Anda menggunakan merk kamera lain, namun dari segi fungsi tetaplah sama.

  • Auto. Dari namanya saja sudah jelas, kalau ini adalah white balance otomatis. Program super canggih pada kamera akan membaca temperatur warna secara otomatis. Anda bisa menggunakan settingan ini pada kebanyakan situasi, namun tidak pada semua situasi (misalkan pada saat pemotretan dengan menggunakan flash external)
  • Incandescent. Settingan ini digunakan dalam ruangan dengan penerangan lampu bohlam. Karena settingan ini adalah untuk menormalkan objek dengan penerangan lampu bohlam yang kekuningan, maka bila digunakan diluar ruangan maka hasil fotonya akan menimbulkan efek kebiru-biruan
  • Fluorescent. Sesuai simbolnya, settingan ini adalah untuk pemotretan dalam ruangan dengan pencahayaan lampu neon. Settingan ini akan menormalkan temperature objek dengan cara meredam pijaran warna putih yang berlebihan
  • Direct Sunlight. Digunakan saat pemotretan dengan sumber cahaya matahari langsung. Settingan ini akan meredam cahaya yang berlebih sehingga hasil foto akan lebih maksimal dibanding mode auto white balance
  • Flash. Gunakan settingan jika anda melakukan pemotretan dengan menggunakan flash/blitz
  • Cloudy. Digunakan pada saat cuaca mendung/matahari tertutup awan. Settingan ini juga sering digunakan pada saat memotret sunset/sunrise, karena settingan ini memperkuat warna kuning kecoklatan
  • Shade. Pada saat anda memotret objek yang berada pada daerah bayangan
    (misalnya dibelakang tembok/pohon) dan cahaya matahari tidak langsung
    mengenai objek, anda dapat menggunakan settingan ini. Karena efek kebirubiruan
    yang biasanya ditimbulkan pada kondisi ini bisa dinetralkan dengan
    settingan ini
  • Choose Color Temp. Disimbolkan dengan huruf K. Satuan temperatur warna
    adalah Kelvin. Warna cahaya dimulai dari warna merah sampai ungu. Skala 0
    derajat Kelvin adalah sangat merah dan skala 10.000 derajat Kelvin adalah
    sangat ungu. Sehingga untuk settingan ini dapat kita simpulkan bahwa, jika hasil
    foto berwarna kebiruan berarti settingan temperatur/Kelvin terlalu rendah dan bila
    terlalu kekuningan berarti settingannya terlalu tinggi.

Adakalanya setelah kita mengotak-atik settingan white balance dan melakukan pemotretan, warna yang dihasilkan masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan (kurang natural). Hal ini biasanya disebabkan karena kondisi pencahayaan yang beragam, misalnya pada suatu ruangan memakai sumber cahaya dari satu buah lampu neon dan beberapa lampu bohlam. Maka untuk menyiasati hal ini, pada kamera DSLR profesional ada satu lagi settingan white balance dengan nama preset manual (PRE).

Bagaimana melakukan settingan Preset Manual ini? Silahkan Anda ikuti langkah-langkah berikut :
  1. Pertama cari sesuatu yang berwarna putih, bisa kertas, baju, tembok dan sebagainya pokoknya berwarna putih. Setelah itu letakkan ditempat dimana anda akan melakukan pemotretan
  2. Ambil kamera dan set fokus pada manual fokus. Bidik objek berwarna putih dan usahakan objek tersebut mengisi seluruh frame foto
  3. Atur metering (ISO,Apperture,Shutter Speed), usahakan seimbang, tidak over atau under lalu lakukan pemotretan
  4. Selanjutnya masuk ke pengaturan white balance di kamera dan lakukan settingan berikut :
    Nikon : Menu → Shooting Menu→ White Balance → Preset Manual → Pilih Foto → OK
    Canon : Menu → Custom White Balance → Pilih Foto dan Tekan Set → dari Menu Standby pilih Quick Control Dial (Q) → White Balance → Custom White Balance

Untuk diketahui, pengaturan diatas bersifat konsisten, hanya berlaku pada saat kita mengambil foto acuan tersebut. Jadi apabila ada perubahan sumber cahaya atau kondisi lainnya maka harus dilakukan setting ulang seperti langkah-langkah diatas.


Semoga bermanfaat,..

Baca juga : Cara Memperbaiki Foto Salah White Balance Dengan Photoshop

Pengaruh ISO, Aperture dan Shutter Speed Terhadap Hasil Foto

Biasanya sebelum melakukan suatu pemotretan, seorang fotografer sudah menentukan prioritas foto apa yang akan dibuat. Apakah ingin foto dengan ketajaman luas atau sempit, apakah ingin membekukan objek yang sedang bergerak (freeze) dan lain sebagainya.


Hasil foto dari suatu pemotretan itu sangat erat kaitannya dengan segitiga fotografi sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya. Untuk itu, pada artikel kali ini kita lihat apa saja pengaruh ISO, Aperture dan Shutter speed terhadap hasil foto :

  • SEMAKIN KECIL APERTURE maka akan menghasilkan foto dengan ruang ketajaman (DoF) yang luas. Artinya jika anda ingin menghasilkan setiap area pada foto memiliki ketajaman yang baik, maka aturlah bukaan lensa yang kecil (angka besar). Biasanya settingan ini dipergunakan untuk memotret landscape yang membutuhkan detail dan ketajaman diseluruh bagian foto. Aperture kecil contohnya f/11, f/13, f/14…dst
  • SEMAKIN BESAR APERTURE maka akan menghasilkan foto dengan ruang ketajaman (DoF) yang sempit. Anda pernah lihat foto dengan objek yang tajam dan background yang blur? Teknik ini sangat digemari karena dapat memperkuat objek pada foreground dan juga terasa lebih artistik. Nah, jika anda menginginkan hasil foto seperti itu, maka aturlah bukaan lensa yang besar (angka kecil). Semakin besar bukaan lensa maka background akan terlihat semakin blur. Aperture besar contohnya f/2.8, f/1.4…dst
  • Untuk teknik SHUTTER SPEED LAMBAT (SLOW SPEED) akan memberikan efek khusus pada objek yang bergerak. Untuk teknik ini membutuhkan kreatifitas fotografer dalam menentukan settingan shutter speednya. Aliran air seperti kapas, lampu-lampu kendaraan pada malam hari terlihat seperti garis dengan pola-pola tertentu adalah beberapa contoh penggunaan teknik ini. Penggunaan tripod pada teknik ini juga sangat dianjurkan untuk menghindari foto yang tidak tajam (shake/blur)
  • SHUTTER SPEED CEPAT biasanya digunakan untuk membuat foto freeze object. Teknik freeze itu sendiri dapat diartikan sebagai teknik memotret pada objek yang sedang bergerak dan pada hasil foto akan terlihat seolah-olah objek yang bergerak tersebut diam/berhenti dalam pergerakannya. Seperti halnya dalam teknik slow speed diatas, tidak ada aturan baku dalam teknik ini. Semua tergantung kreatifitas anda, ingin seperti apa foto yang dihasilkan. Jika ingin foto yang benar-benar freeze maka pilihlah shutter speed yang cepat dan turunkan sedikit kecepatannya bila ingin terlihat ada pergerakan pada hasil foto anda. Memotret balapan, memotret burung yang sedang terbang adalah contoh dari teknik ini
  • SEMAKIN RENDAH ISO maka kemungkinan “penampakan” noise juga akan semakin kecil. Noise biasanya akan terlihat pada angka ISO 400 atau lebih. Apabila setelah melakukan settingan (ISO, Apperture, Shutter Speed) hasil foto masih terlalu gelap dan kita tidak ingin melihat adanya noise pada hasil foto kita maka dapat diakali dengan menggunakan lampu tambahan seperti blitz/flash, lampu payung, dsb
  • SEMAKIN TINGGI ISO maka noise akan semakin jelas terlihat. Karena noise ini berupa bintik-bintik kecil pada foto, maka keberadaannya dianggap sangat mengganggu. Mungkin karena hal tersebut, di internet banyak kita temui softwere atau plug in penghilang noise, seperti Neat Image, Imagenomic Noiseware, Noise Ninja, dsb. Untuk penggunaannya, biasanya ISO tinggi hanya digunakan pada saat kamera kekurangan cahaya, misalnya malam hari. Namun tidak sedikit pula fotografer yang sengaja menghadirkan noise ini pada foto mereka (biasanya foto B/W), sehingga foto akan kelihatan lebih artistik

Dengan melihat fakta diatas, kita sudah mengetahui bagaimana sebuah cahaya bisa masuk kedalam kamera dan menghasilkan sebuah foto yang pas (tidak terlalu gelap/terlalu terang). Akan tetapi kita pasti tahu bahwa cahaya yang masuk kekamera itu memiliki warna yang berbeda, contohnya antara lampu neon yang kebiruan dengan bohlam yang agak kekuningan, ataupun sinar matahari langsung antara pagi, siang dan sore hari.

Pada bahasan selanjutnya kita akan bicara tentang jenis cahaya apa yang masuk kekamera kita. Yup, kita akan bicara masalah warna cahaya, karena tidak semua cahaya itu menghasilkan warna yang sama. Kita akan Mengenal Apa Itu White Balance

Apa Itu Segitiga Fotografi (ISO, Aperture dan Shutter Speed)

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa pada kamera SLR digital kita bisa mengatur sendiri eksposur (ukuran cahaya) yang ingin kita gunakan untuk mengambil sebuah foto. Sebenarnya buat apa diatur lagi, kan udah ada mode auto pada kamera? Benar, ada mode auto pada kamera. Namun, kenyataannya dilapangan nanti anda tidak bisa hanya mengandalkan mode auto pada kamera, anda membutuhkan alat tambahan untuk menghasilkan foto yang bagus, seperti blitz, lampu payung dll. Lagian kalau hanya mengandalkan mode auto ini anak kecil juga bisa. Hehehe

Salah seorang fotografer kenamaan, Bryan Peterson, menulis tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami fotografi, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga fotografi. Setiap elemen pada segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.

Mari kita lihat apa saja ketiga elemen tersebut :
  •  Pertama, ISO.
    ISO didefinisikan sebagai kepekaan atau seberapa sensitf sensor kamera dalam menerima cahaya. Semakin kecil ISO maka sesintifitasnya terhadap cahaya juga akan kecil, dan semakin besar nilai ISO maka sesintifitasnya juga akan besar.

    Kalau bicara mengenai ISO, ada satu hal yang perlu diketahui, yaitunya noise. Noise adalah bintik-bintik kecil yang muncul pada foto. Salah satu penyebab kemunculan noise ini adalah penggunaan dari ISO. Semakin besar nilai ISO yang digunakan, maka keberadaan noise akan semakin jelas terlihat.

    Wah, kalau begitu harus selalu pakai ISO kecil dong…? Tergantung kondisi cahaya saat pemotretan. Jika pemotretan outdor pada siang hari, kita bisa saja menggunakan iso kecil, namun bila berada dalam ruangan dengan kondisi cahaya minim tanpa ada cahaya tambahan, maka mau tak mau ISO harus dinaikkan.

  • Kedua, Aperture.
    Aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka saat kita mengambil foto. Saat kita memencet tombol shutter, maka lobang didepan sensor kamera akan membuka. Besarnya lobang ini tergantung dari pengaturan apperture pada kamera. Semakin besar lobang terbuka, maka semakin banyak pula cahaya yang bisa masuk ke sensor.

    Aperture dinyatakan dalam satuan f-stop. Misalkan pada apperture 5,6 biasanya akan ditulis dengan f/5,6. Pada penggunaan apperture ini, semakin kecil angka f-stop nya, maka bukaan lensa akan semakin besar. Sebaliknya semakin besar angka f-stop, maka lobang akan semakin kecil. Coba perhatikan gambar dibawah :


    Jadi bila akan memotret pada kondisi minim cahaya, kita membutuhkan bukaan lensa yang besar (angka kecil), begitupun sebaliknya. Apperture sangat menentukan dari yang namanya DoF (Depth of Field). DoF adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus pada foto. DoF yang luas berarti sebagian besar objek foto (dari yang terdekat sampai yang terjauh dari kamera) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DoF yang sempit berarti hanya bagian objek pada titik tertentu yang akan terlihat tajam atau fokus.

  • Ketiga, Shutter Speed.
    Untuk memahami apa itu Shutter Speed, mari kita lihat lagi gambar pada artikel sebelumnya tentang cara kerja kamera.



    Seperti yang telah diterangkan bahwa, saat kita memotret, cermin pantul akan berayun keatas dan membiarkan cahaya masuk ke sensor melewati shutter (angka 4). Shutter akan terus terbuka selama waktu yang telah ditetapkan dan akan tertutup kembali jika proses pemotretan selesai. Nah, rentan waktu inilah yang disebut dengan shutter speed. Agar lebih gampangnya, shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula.

    Sebagai contoh, untuk settingan shutter speed sebesar 60 pada kamera anda artinya rentan waktu shutter untuk membuka dan menutup adalah 1/60 (seperenampuluh) detik. Sedangkan untuk settingan shutter speed sebesar 30”, artinya rentan waktu shutter untuk membuka dan menutup adalah selama 30 (tiga puluh) detik.

    Perlu diingat, untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakanlah shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga hasil foto yang didapat terhindar dari blur/miss focus. Untuk settingan shutter speed lebih rendah kita bisa mengakalinya dengan mengaktifkan fitur Image Stabilization (IS) pada canon atau Vibration Reduction (VR) pada Nikon (1/20, 1/30..dst) atau menggunakan tripod untuk shutter speed yang lebih lama.
Oke, sekarang anda sudah mengenal tentang ketiga elemen dalam segitiga fotografi. Mungkin sekarang malah muncul pertanyaan : Bagaimana menggunakan ketiga elemen tersebut agar mendapatkan hasil foto yang bagus? Kapan harus menggunakan shutter speed cepat atau lambat? Kapan harus menggunakan apperture besar atau kecil? Kapan harus menggunakan ISO tinggi atau rendah?

Untuk settingan ISO, Aperture dan Shutter Speed agar mendapatkan hasil foto yang bagus itu caranya cukup mudah, yaitu anda tinggal lihat pada viewfinder (jendela bidik), kemudian tekan shutter setengah untuk focus, maka pada jendela bidik tersebut anda akan lihat sebuah garis indikator kecil. Anda tinggal memposisikan indikator tersebut tepat ditengah (angka nol) dengan cara memutar-mutar settingan ISO, Aperture dan Shutter speed

Jadi, bila anda akan melakukan suatu pemotretan tanpa blitz pada mode manual, settingan pertama adalah atur ISO pada angka kecil (200 atau lebih kecil), setelah itu “mainkan” settingan aperture dan shutter speed pada kamera anda. Jika settingan keduanya sudah mentok (Bukaan lensa sudah yang paling lebar atau shutter speed sudah pada angka 1/60), namun garis indikator masih belum ditengah, maka naikkan ISO sehingga garis indikator tepat berada ditengah.

Gimana, caranya cukup mudah bukan?
Selanjutnya, kita akan bahas apa saja pengaruh settingan ISO, Aperture dan Shutter Speed terhadap hasil foto. Anda pernah lihat foto dengan background blur? Atau foto air terjun dengan efek halus seperti kapas? Untuk mendapatkan hasil foto seperti itu sangat erat kaitannya dengan ketiga elemen diatas. Apa saja pengaruhnya? Kita bahas pada artikel berikutnya ya, klik tautan dibawah ini :

Pengaruh ISO, Aperture dan Shutter Speed Terhadap Hasil Foto